"Selamat tinggal masa lajang", kira-kira itulah sebuah kalimat yang hendak diungkapkan oleh sensei Sabar yang baru saja mengakhiri masa lajangnya di Bandung, 11 Februari 2012 yang baru lalu. Guru Bahasa Jepang yang satu ini memang orang yang sebenar-benarnya sabar, sesuai dengan namanya " Sabar Sibarani", setelah sejak sekian lama menunggu saat-saat penuh penantian dan kebahagiaan, duduk berdua di kursi pelaminan.
Hari hari yang terus merayap dari satu detik ke detik berikutnya, menit dan jam silih berganti mejadi hitungan hari, waktu saling berkejaran hingga hitungan bulan dan tahun. Tak terasa, waktu yang sedemikian cepatnya beranjak, menyisakan kenangan dan menorehkan beragam takdir kehidupan sebagai seorang bujangan. Sensei Sabar benar-benar tengah menikmati masa akhir hidup melajang sambil memaknai dengan lekat setiap detik yang berpindah ke detik selanjutnya. Siapapun diantara kita tidak akan kuasa menahan lajunya waktu, untuk sebentar saja.
Bagi pria ganteng yang murah senyum ini, menikah bukanlah prestasi, bukan juga saatnya untuk berbangga diri atau sekedar terjebak dalam romantisme sepasang manusia yang terbungkus idalam ndahnya malam pertama. Namun baginya, merupakan kisah mula yang akan menggerakan jiwa dan raganya untuk melangkah pada sebuah “dunia lain" , yaitu sebuah dunia yang penuh warna dan mungkin sebagian warna-warnanya belum pernah dijumpainya semasa masih lajang.
"Selamat menempuh hidup baru", demikian sebagian banyak para tamu undangan mengucapkan kalimat itu silih berganti. Semuanya seperti hendak mengungkapkan ingin mengambil beberapa serpihan kebabahagiaan yang tengah dirasakan kedua mempelai yang hendak bersiap diri memasuki gerbang dunia baru, sebuah mahligai tempat menempa diri menuju hidup yang penuh dengan kedewasaan dan penuh tanggung jawab. Silih asah, silih asih dan silih asuh dalam membina kerukunan hidup berumah tangga.
Selamat dan berbahagia, sobat. Semoga tuhan memberkati dan menjadi tauladan buat kita semua. Amin